Review Film: 'Ready or Not'

Review Film: 'Ready or Not'

Meski tergolong thriller dan terkesan sadis, film Ready or Not sebenarnya tergolong ringan. Tak perlu orang menutup mata ketika adegan menegangkan muncul.

Film yang dibintangi Samara Weaving ini sejatinya mengisahkan kejadian yang bisa jadi mimpi buruk bagi seorang pengantin baru.

Ready or Not dimulai dengan kebahagiaan Grace (Samara Weaving) yang mampu menikahi sosok pujaan hatinya, Alex (Mark O'Brien). Alex merupakan anak bungsu dari keluarga kaya raya pengusaha permainan, Le Domas.
 

Sebenarnya, sejak awal pula, ada banyak hal yang bisa jadi alasan Grace untuk tak menikahi Alex. Beberapa di antaranya adalah Grace tak benar-benar mengenal keluarga Alex.

Bukan hanya itu, Grace juga terbilang tak memiliki hubungan yang manis dengan calon besan serta kakak iparnya.

Di sisi lain, Alex pun menyembunyikan sesuatu dalam keluarganya demi tak kehilangan Grace. Tapi Grace masa bodoh. Ia tetap mantap menikahi Alex. 

Grace pun baru sadar ia 'menikahi' masalah begitu pesta usai. Jelang tengah malam, Grace baru tahu bahwa keluarga Le Domas punya kebiasaan bermain bersama sebagai penyambutan anggota baru keluarga itu.

Gim dimulai saat Grace dapat kartu petak umpet. Namun Le Domas nyatanya tak bermain seperti kebanyakan orang. Permainan petak umpet yang dimainkan nyatanya jadi ajang pertaruhan nyawa Grace, kurang dari 24 jam usai sah menikah.

Ready or Not sejatinya menawarkan kisah yang sederhana namun dikemas dengan cara yang menarik, berupa mengubah permainan klasik jadi teror dan mimpi buruk.

Review Film: 'Ready or Not'


Namun sayangnya jalan cerita film ini sudah bisa ditebak. Apalagi bila menyangkut soal jumpscare

Meski begitu, penonton tetap bisa menikmati perjuangan 'berdarah' Grace untuk tetap hidup. Scoring yang diatur Bryan Tyler pun mendukung ketegangan melihat kegentingan yang melanda Grace.

Salah satu hal yang menarik dari film ini adalah melihat perubahan karakter Grace. Di awal, Grace dinarasikan sebagai sosok yang polos. Namun, jiwa pejuang Grace dan kegaharannya perlahan muncul di tengah permainan.
 

Beberapa adegan 'gahar' dari Grace muncul seperti mengganti sepatu hak tingginya dengan sneakers sampai mengoyakkan gaun pengantin yang indah. Warna gaun serta raut wajah yang berubah pun menyiratkan perjuangan keras Grace dan menggantungkan hidup kepada dirinya sendiri.

Salah satu hal yang mengganggu dari Ready or Not adalah porsi peran yang tak konsisten. 

Beberapa pemain yang tercatat sebagai pendukung sejatinya lebih memberikan daya tarik pada film ini dibanding tokoh utamanya.

Salah satu contohnya adalah dengan karakter kakak Alex, Daniel yang diperankan oleh Adam Brody. 

Daniel memiliki porsi yang lebih menonjol dibanding sosok suami Grace tersebut. Saya jelas mengalami second-led syndrome mengamati tingkah Daniel sepanjang film.

Bukan hanya itu, 'Ready or Not' juga tampak memiliki banyak plot yang berlubang. Ada kisah yang mestinya masuk jadi bagian cerita dan menjadi penguat keseruan justru tak memiliki porsi yang sepadan, seperti latar belakang Alex dan keluarganya.

Kendati demikian, pengambilan gambar yang detail dan efek suara saat momen thriller muncul menjadi nilai tambah tersendiri. Teknik ini mampu memberikan efek psikologis yang cukup ampuh kepada penonton.

Walaupun, untuk kategori dewasa, film ini tergolong "masih ringan" karena lebih banyak unsur komedi dibanding thriller yang membuat orang ketakutan atau jijik atau pun trauma usai menontonnya.

Meski tergolong ringan, amat dianjurkan ditonton tidak dengan yang belum dewasa apalagi anak-anak.

Jika anda sedang bosan, memiliki anggaran untuk menonton dan mencari sesuatu yang bisa menghibur dengan sedikit ketegangan, 'Ready or Not' bisa menjadi salah satu pilihan. 

Film ini sudah tayang di Indonesia sejak 24 Agustus dan bisa disaksikan di seluruh jaringan bioskop XXI, CGV dan Cinemaxx. 

 

(sumber: cnn indonesia)




Copyright © 2018 BahanaFM
Powered by

MEMBER OF